Jakarta Tak Pernah Belajar


Seorang anak menangis di depan rumahnya yang terendam banjir. Sumber: Tempo.co

Sejak kota dibangun dan berkembang, tantangan perkotaan pun ikut bertambah. Salah satu yang paling lama membayangi Jakarta dan tak kunjung usai adalah persoalan banjir. Hujan deras saja cukup membuat ibu kota negara lumpuh. Ribuan orang terpaksa mengungsi, aktivitas ekonomi terganggu, dan nyawa melayang. Anehnya, semua ini seperti dianggap hal biasa.


Awal Maret 2025, Jakarta kembali tergenang. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan 114 Rukun Tetangga (RT) terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai 3 meter. Lebih dari 4.000 jiwa harus mengungsi ke posko-posko darurat. Sembilan warga dilaporkan meninggal dunia. Ini bukan peristiwa kecil. Ini bencana yang berulang dan seperti biasa, tak ada yang benar-benar siap.


Padahal, peringatan dini dari BMKG sudah disampaikan jauh hari. Cuaca ekstrem diprediksi. Sungai-sungai di kawasan hulu sudah siaga. Tapi tetap saja, air mengalir ke pemukiman, bukan ke saluran. Pompa memang dinyalakan, bantuan makanan pun dibagikan. Tapi ini bukan solusi jangka panjang. Ini hanya tambal sulam yang terus diulang tiap tahun.


Kita tidak bisa lagi mengandalkan doa dan pompa air semata. Persoalan banjir Jakarta adalah soal sistem: drainase yang tersumbat, ruang terbuka hijau yang kurang dari 10%, dan pembangunan yang tak berpihak pada daya tampung air. Warga miskin di bantaran sungai adalah yang pertama terdampak, tapi paling sedikit dilibatkan dalam pengambilan keputusan.


Apakah Jakarta sudah menyerah? Apakah kita memilih untuk berdamai dengan genangan, dan menganggapnya sebagai bagian dari musim hujan?


Belum terlambat untuk berubah. Pemerintah daerah harus berani menata ulang arah pembangunan kota. Ruang terbuka perlu diperluas, sumur resapan dipercepat, dan tata kota diperiksa ulang agar tidak semata mengikuti investor, tapi kebutuhan lingkungan.


Bukan hanya pemerintah, warga juga harus turut peduli. Jangan hanya ramai saat viral di media sosial. Kesadaran menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, hingga ikut mengawasi proyek drainase harus dimiliki bersama. Kota ini tidak akan selamat hanya dengan satu pihak bekerja sendiri.


Jakarta tidak kekurangan anggaran, tapi sering kekurangan arah dan keberanian. Jika pola lama terus diulang, maka tiap musim hujan, kita akan kembali membaca berita yang sama: banjir, pengungsian, korban.


Air naik bukan karena hujan semata, tapi karena kita semua diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Blok M Jadi Surganya Jajanan Viral, Ini 10 Menu Unik yang Bikin Ketagihan

Liburan Seru di Taman Mini Indonesia Indah: Wisata Edukatif dan Bermain untuk Keluarga

KEMACETAN di SEKITAR STASIUN MANGGARAI MAKIN PARAH AKIBAT PEMBANGUNAN LRT