AKSI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2025: SOROTI KEKERASAN DAN KETIDAKADILAN
Ribuan perempuan turun ke jalan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, memperingati Hari Perempuan Internasional dengan menyoroti tingginya kasus kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan.
Foto: TeropongNews
Jakarta, 8 Maret 2025 – Ribuan perempuan turun ke jalan dalam aksi memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Jumat (8/3). Aksi yang berlangsung di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, ini diinisiasi oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) guna menyoroti berbagai bentuk kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang masih dialami perempuan di Indonesia.
Dengan mengusung tema "Perempuan: Dimiskinkan, Dibunuh, Dikriminalkan. Perempuan Melawan dan Menggugat Negara", API menegaskan bahwa negara turut berperan dalam berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Mulai dari pemiskinan struktural, pembiaran kasus kekerasan, hingga kriminalisasi terhadap perempuan yang memperjuangkan hak-haknya.
Seruan Keadilan bagi Perempuan
Dalam orasi yang disampaikan perwakilan API, ditekankan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan data dari Jakarta Feminist, sepanjang 2023 tercatat 180 kasus pembunuhan terhadap perempuan di 38 provinsi. Sebagian besar pelaku adalah laki-laki, dan lebih dari separuh kasus terjadi di luar rumah korban.
Selain itu, perampasan ruang hidup perempuan adat juga menjadi sorotan dalam aksi ini. Banyak perempuan kehilangan hak atas tanah dan sumber daya akibat kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan korporasi. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan ekonomi, kehilangan sumber penghidupan, serta terancam kehilangan identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Para peserta aksi membawa berbagai poster dan spanduk dengan tuntutan agar negara lebih serius dalam menangani isu ini. Mereka meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dalam memberikan perlindungan bagi perempuan, baik dalam aspek hukum, ekonomi, maupun sosial.
Selain menyoroti masalah kekerasan dan diskriminasi, aksi ini juga menuntut kebijakan yang lebih inklusif bagi perempuan dalam berbagai sektor. Masalah ketimpangan upah, hak cuti hamil yang masih diabaikan oleh banyak perusahaan, serta keterbatasan akses perempuan terhadap pendidikan dan pekerjaan layak menjadi bagian dari isu yang disuarakan.
Gerakan Global untuk Kesetaraan
Aksi ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan global dalam peringatan Hari Perempuan Internasional. Di berbagai negara, demonstrasi serupa digelar untuk menuntut kesetaraan, perlindungan hukum, serta penghentian berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.
Selain di jalanan, kampanye terkait hak-hak perempuan juga marak dilakukan di berbagai platform digital. Media sosial menjadi sarana utama dalam menyebarkan informasi dan membangun kesadaran mengenai pentingnya keadilan gender. Diskusi, seminar daring, serta petisi online juga banyak dilakukan sebagai bentuk advokasi tambahan untuk menekan pemerintah agar mengambil tindakan nyata.
Dengan aksi ini, diharapkan perhatian publik terhadap perjuangan perempuan semakin meningkat. Berbagai organisasi dan individu yang peduli terhadap isu gender terus mendorong perubahan agar kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan dapat segera diwujudkan.
Dukungan dari berbagai kelompok masyarakat semakin memperkuat pesan yang ingin disampaikan dalam aksi ini. Kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender diharapkan terus berkembang, sehingga perempuan mendapatkan hak yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk akses ke pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang layak.

Komentar
Posting Komentar