Gorengan: Makanan Favorit yang Menyimpan Risiko Kesehatan

Gorengan beraneka ragam, seperti tahu isi dan bakwan, menjadi camilan favorit, tetapi konsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sumber: Liputan6.com
 

Gorengan menjadi salah satu makanan yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dari pedagang kaki lima hingga restoran besar, makanan ini selalu memiliki tempat di hati konsumennya. Rasanya yang gurih, teksturnya yang renyah, serta harganya yang terjangkau membuatnya digemari berbagai kalangan. Namun, di balik kelezatannya, gorengan menyimpan ancaman bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.


Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan berminyak ini bisa meningkatkan risiko penyakit serius, seperti diabetes, serangan jantung, hingga stroke. Namun, hal itu tampaknya belum cukup untuk membuat masyarakat mengurangi konsumsi gorengan, terutama saat bulan Ramadan.


Gorengan, Hidangan Favorit Saat Berbuka

Survei GoodStats 2025 menunjukkan gorengan sebagai makanan favorit berbuka puasa (29,2%), meski berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Sumber: GoodStats

Sebuah survei yang dilakukan oleh GoodStats pada 2025 menunjukkan bahwa gorengan menjadi hidangan favorit masyarakat saat berbuka puasa. Sebanyak 29,2% responden memilih gorengan sebagai makanan utama berbuka, mengalahkan nasi dan lauk pauk yang berada di posisi kedua dengan 28,2%. Posisi berikutnya ditempati oleh kolak (15,6%), buah-buahan (14,1%), dan kue (9%).


Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada pilihan makanan lain yang lebih sehat, gorengan tetap menjadi pilihan utama banyak orang saat berbuka puasa. Selain karena rasanya yang nikmat, gorengan juga mudah ditemukan di pasar takjil dan pedagang kaki lima yang menjamur saat Ramadan.


Kandungan Gorengan dan Dampaknya Terhadap Kesehatan


Infografis yang mengungkap kandungan lemak dan kalori tinggi dalam gorengan yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan obesitas. Sumber: Tempo.com

Di balik kelezatannya, gorengan memiliki kandungan lemak dan kalori yang tinggi. Berdasarkan data dari Tempo, berikut kandungan nutrisi dalam beberapa jenis gorengan:


  • Bakwan: 137 kalori per potong, lemak 75%, karbohidrat 19%, dan protein 6%.


  • Tempe goreng tepung: 72 kalori per potong, lemak 50%, karbohidrat 29%, protein 20%.


  • Pisang goreng: 64 kalori per potong, lemak 44%, karbohidrat 54%, protein 2%.


  • Tahu isi: 134 kalori per potong, lemak 44%, karbohidrat 26%, protein 30%.

Kandungan minyak yang tinggi dalam gorengan dapat menyebabkan penumpukan lemak jahat dalam tubuh, yang berisiko memicu berbagai penyakit serius.

Infografis Katadata menunjukkan konsumsi gorengan berlebihan dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan diabetes tipe 2. Sumber: katadata.co.id

Data dari Katadata juga mengungkapkan bahwa konsumsi gorengan yang berlebihan dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit:


  • Risiko stroke dan serangan jantung meningkat 28%.


  • Risiko jantung koroner naik sebesar 22%.


  • Risiko gagal jantung meningkat hingga 37%, terutama jika konsumsi gorengan dilakukan secara rutin.


  • Jika dikonsumsi lebih dari 7 kali dalam seminggu, risiko diabetes tipe 2 meningkat hingga 55%.


Kebiasaan makan gorengan setiap hari, terutama dalam jumlah banyak, menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit jantung dan diabetes di Indonesia. Hal ini diperparah dengan penggunaan minyak goreng yang dipakai berulang kali oleh pedagang, yang dapat meningkatkan kandungan lemak trans dalam makanan.

Meskipun banyak penelitian mengungkapkan dampak negatifnya, gorengan tetap menjadi favorit masyarakat. Ada beberapa alasan mengapa makanan ini masih begitu populer:

  1. Rasanya gurih dan renyah – Banyak orang menyukai kombinasi rasa gurih dan tekstur renyah gorengan yang baru digoreng.
  2. Harganya terjangkau – Dibandingkan dengan makanan lain, gorengan lebih murah dan bisa dibeli oleh semua kalangan.
  3. Mudah ditemukan – Hampir di setiap sudut kota, pedagang gorengan selalu ada, mulai dari pagi hingga malam hari.
  4. udah dibuat – Gorengan bisa dibuat dengan bahan sederhana, seperti tepung, telur, dan minyak, sehingga banyak orang memilih memasaknya sendiri di rumah.
  5. Cocok di lidah semua orang – Hampir semua orang, dari anak-anak hingga orang tua, menyukai gorengan sebagai camilan atau pelengkap makanan.


Meskipun sulit menghindari gorengan sepenuhnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya:

  1. Kurangi frekuensi konsumsi – Jika biasanya mengonsumsi gorengan setiap hari, kurangi menjadi 2-3 kali seminggu.
  2. Pilih minyak yang lebih sehat – Jika menggoreng sendiri, gunakan minyak dengan kandungan lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun atau minyak kelapa.
  3. Gunakan metode memasak lain – Memanggang atau merebus bisa menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan menggoreng.
  4. Hindari gorengan dengan banyak tepung – Gorengan dengan lapisan tepung tebal cenderung menyerap lebih banyak minyak.
  5. Kombinasikan dengan makanan sehat – Jika tetap ingin makan gorengan, imbangi dengan sayur-sayuran dan buah-buahan untuk mengurangi dampak negatifnya.


Dengan langkah-langkah ini, masyarakat tetap bisa menikmati gorengan tanpa harus khawatir berlebihan terhadap dampak buruknya bagi kesehatan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Blok M Jadi Surganya Jajanan Viral, Ini 10 Menu Unik yang Bikin Ketagihan

Liburan Seru di Taman Mini Indonesia Indah: Wisata Edukatif dan Bermain untuk Keluarga

KEMACETAN di SEKITAR STASIUN MANGGARAI MAKIN PARAH AKIBAT PEMBANGUNAN LRT